Akses Cepat

Berita Terbaru

Lestarikan Tradisi, Desa Air Kelik Gel;ar Perayaan Maras Taun Gunong Nayo Tahun 2026
11 May 2026

Lestarikan Tradisi, Desa Air Kelik Gel;ar Perayaan Maras Taun Gunong Nayo Tahun 2026

Pemerintah Desa Air Kelik, Kecamatan Damar, sukses menyelenggarakan acara adat tahunan Maras Taun Gunong Nayo 2026 pada Minggu (10/05/2026). Acara yang dipusatkan di kediaman Dukun Mulyadi ini menjadi momen penting bagi masyarakat setempat untuk memanjatkan syukur dan mempererat tali silaturahmi. Keunikan Lepat Budi di Desa Air Kelik ​Salah satu sorotan utama dalam perayaan tahun ini berada di Kecamatan Damar, tepatnya di Desa Air Kelik. Di sini, masyarakat menjaga keunikan ritual melalui Maras Taun Gunung Nayo. ​Berbeda dengan daerah lain yang umumnya membuat lepat (makanan khas dari beras ketan) dengan ukuran panjang, masyarakat Desa Air Kelik memiliki ciri khas berupa Lepat Budi. Lepat ini memiliki ukuran yang sangat besar dan berbentuk kotak menyerupai bantal. ​Filosofi Lepat Budi: Masyarakat percaya bahwa ukuran "Budi" dalam lepat tersebut melambangkan besarnya hasil panen. Semakin besar ukuran lepat yang dibuat, diyakini semakin besar pula kemakmuran dan hasil pertanian yang akan diperoleh warga di masa mendatang. ​Prosesi Adat dan Makan Bedulang ​Prosesi puncak Maras Taun dipimpin langsung oleh Ketua Adat setempat dan dihadiri oleh perangkat pemerintah serta tokoh masyarakat. Acara dimulai dengan doa bersama, diikuti dengan pemotongan Lepat Budi secara simbolis. ​Sebagai penutup yang mempererat tali silaturahmi, warga kemudian melaksanakan tradisi Makan Bedulang, yaitu makan bersama dalam satu nampan besar yang berisi berbagai lauk pauk khas daerah. ​Potensi Wisata Budaya ​Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Belitung Timur, Yulhaidir, menyatakan bahwa tradisi Maras Taun memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai agenda budaya daerah. Keunikan seperti Lepat Budi di Desa Air Kelik diharapkan dapat menarik minat wisatawan untuk datang dan merasakan langsung kekayaan budaya asli Belitung Timur. ​Melalui Maras Taun, masyarakat Belitung Timur membuktikan bahwa di tengah arus modernisasi, akar tradisi dan rasa syukur terhadap alam tetap terjaga dengan harmoni.